Selasa, 04 November 2014

Pengaruh Kamus Nusantara Terhadap Sejarah dan Budaya Nusantara Masa Kini.


Bangsa Indonesia mempunyai nilai sejarah yang sangat kuat dan dalam perkembangan nya sangat mempengaruhi budaya bangsa ini  menjadi sangat beragam. Dahulu bangsa Indonesia mengalami masa kerajaan Hindhu-Budha pada abad ke 4 sampai abad ke 7 di wilayah jawa barat dan abad ke 7 sampai ke 14 di wilayah sumatera selatan. Pengaruh agama Hindhu-Budha  pada bangsa ini terlihat pada banyaknya masyarakat bangsa Indonesia yang memeluk agama Hindhu misalnya saja di Bali (terdapat 4 kasta). Namun, uniknya agama Hindhu yang berada di Bali berbeda dengan agama Hindhu yang berasal dari India karena pengaruh agama Hindhu yang menyebar di Bali mengalami proses akulturasi terhadap budaya asli Bali yang bersifat fleksibel dan adaptif sehingga tetap terasa asli Indonesianya. 
Agama Hindhu ini juga menyebar sampai daerah Gunung bromo dimana penduduk asli nya beragama Hindhu sampai sekarang. Agama Budha berkembang pesat di daerah Jawa Tengah dimana terdapat Candi Borobudur yang merupakan Candi terbesar di dunia. Sampai sekarang,Candi itu masih dianggap sakral dan sering dipakai dalam kegiatan upacara keagamaan.Jika kita menyadari bahwa Candi Prambanan yang merupakan candi dari agama Hindhu berada di tengah-tengah kawasan Candi Borobudur maka kita seharusnya menyadari bahwa budaya toleransi antar beragama telah ditanam dari sejak jaman dahulu. Sampai sekarang, toleransi antar agama yang beragam juga tumbuh di masyarakat sekitar. Namun terkadang terdapat oknum tidak bertanggungjawab yang ingin memecah belah rasa kesatuan bangsa misalnya saja konflik Poso,Sulawesi Tengah.
            Sejarah nusantara juga menyebutkan bahwa Indonesia merupakan kawasan pusat perdagangan antara asia dengan eropa ( antara barat dengan timur).Hal ini menyebabkan adanya pencampuran budaya dari segi suku,ras dan agama. Di Indonesia, banyak masyarakatnya yang berdarah campuran. Misalnya saja pribumi dengan keturunan Arab, Belanda maupun Cina karena memang bangsa tersebut merupakan bangsa  yang sering sekali melakukan transaksi perdagangan dan berbaur dengan masyarakat asli Indonesia. Tentunya menyebabkan adanya pencampuran budaya misalnya saja di daerah Semarang terdapat pertunjukan wayang Po Te Hi,yang merupakan pertunjukan local asli jawa tengah ( wayang ) dengan sentuhan budaya Cina.
Karena Indonesia merupakan wilayah perairan dimana mempunyai potensi yang besar untuk orang asing berlabuh dan kemudian menyatu dengan pribumi sehingga menghasilkan keturunan campuran,misalnya saja di daerah Kalimantan Barat terdapat suku asli Indonesia yaitu suku Dayak namun jika dilihat dari segi fisiknya tampak ada sedikit keturunan Cina. Hal ini menyebabkan budaya yang berkembang di Indonesia dari sabang sampai merauke sangatlah banyak dan beragam. Bahasa yang digunakan serta dialek-dialek nya pun sampai berjumlah ratusan ribu. Selain itu, antar masyarakat lokal pun terjadi perpindahan penduduk sehingga menyebabkan adanya proses akulturasi dan menghasilkan keturunan campuran misalnya saja Jawa-Sunda, Minang-Jawa, Aceh-Bali, dll. Semua nya menyebabkan Indonesia menjadi suatu Negara yang sangat kaya budaya.
      Dari segi arsitektur, sejarah budaya Indonesia sangat mempengaruhi bentuk rumah yang dibentuk sampai sekarang.Bila kita melihat bentuk atap rumah adat daerah Batak berbeda dengan bentuk atap rumah yang berasal dari Kalimantan,hal ini disebabkan karena bentuk atap rumah mereka terinspirasi dari bentuk perahu yang mereka pakai pada waktu lampau.Bentuk perahu Sumatera Utara berbeda dengan bentuk perahu dari daerah Kalimantan. Sedangkan di Jakarta,pada masa lalu menjadi pusat dari penjajahan Belanda.hal ini juga mempengaruhi bentuk rumah adat asli Betawi yang sedikit banyak terdapat unsur budaya Belanda.
Dari segi kuliner, sejarah nusantara yang banyak beresentuhan dengan bangsa asing juga mempengaruhi dunia kuliner nusantara sampai sekarang, misalnya saja ada martabak yang asli nya berasal dari India. Namun, berkembang di daerah Padang dan akhirnya menyebar keseluruh Indonesia.
        Dari segi kebiasaan, orang Indonesia kebanyakan sering melakukan salaman terhadap orang lain ketika bertemu. Budaya berjabat tangan ini pada mulanya dibawa dari bangsa Arab saat melakukan penyebaran agama Islam di Indonesia.Sampai sekarang bersalaman merupakan hal yang sangat penting di Indonesia untuk menunjukkan rasa hormat dan sapa tehadap orang lain. Selain itu,menyapa terhadap orang lain juga berasal ketika penyebaran agama Islam dimana salam merupakan hal yang wajib diucapkan ketika bertemu orang lain,apalagi ketika bertemu orang yang lebih tua.
     Budaya nusantara masa kini tetap terpengaruh dari sejarah budaya bangsa kita. Tentunya masing-masing suku adat dan budaya tidak berhak untuk berlomba untuk menjadi siapa yang terbaik dari Indonesia. karena yang terbaik dari Indonesia adalah apabila kita bersatu antar budaya yang menyebabkan akar budaya kita menjadi kokoh,kuat dan kaya sehingga tidak mudah dihancurkan oleh bangsa lain.
Ada 3 (tiga) faktor utama yang mendorong terbentuknya keberagaman budaya Indonesia sebagai berikut:
1.  Latar Belakang Historis
Dalam perjalanan sejarah menyebutkan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunani (wilayah Cina Bagian Selatan). Sebelum tiba di Nusantara mereka berhenti di berbagai tempat dan menetap dalam jangka waktu yang lama, bahkan mungkin hingga beberapa generasi. Selama bermukim di tempat-tempat tersebut, mereka melakukan adaptasi dengan lingkungannya. Mereka mengembangkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan-keterampilan khusus sebelum melakukan perjalanan. Dengan perbedaan pengalaman dan pengetahuan telah menyebabkan timbulnya perbedaan suku bangsa dengan budaya yang beranekaragam di Indonesia.
2.   Perbedaan Kondisi Geografis
Perbedaan-perbedaan kondisi geografis telah melahirkan berbagai suku bangsa dan keberagaman budaya Indonesia. Hal itu berkaitan dengan : Pola kegiatan ekonomi, Perwujudan kebudayaan yang ada contohnya: nelayan, pertanian, kehutanan, dan perdagangan. Sehingga mereka akan mengembangkan corak kebudayaan yang khas dan cocok dengan lingkungan geografis mereka tanpa mengganggu kebudayaan yang lainnya.
3.    Keterbukaan terhadap Kebudayaan Luar
Bangsa Indonesia adalah contoh bangsa yang terbuka. Hal ini dapat dilihat dari besarnya pengaruh asing dalam membentuk keanekaragaman masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.
Pengaruh asing pertama yaitu ketika orang-orang India, Cina, dan Arab di susul oleh bangsa Eropa. Bangsa tersebut datang membawa kebudayaan yang beranekaragam.

Daerah-daerah yang relatif terbuka, khususnya daerah pesisir paling cepat megalami perubahan. karena:
- Dengan semakin banyaknya sarana dan prasaranatransportasi,
- Hubungan antar kelompok semakin intensif dan
- Semakin sering mereka melakukan pembauran

Sementara daerah-daerah yang terletak jauh dari pantai umumnya tidak banyak terpengaruh budaya luar, sehingga kebudayaannya berkembang dengan corak khas. Contoh: jakarta salah satu contoh kota pelabuhan, memiliki corak kebudayaan yang cukup beragam yaitu dengan adanya Budaya Betawi memiliki sedikit budaya Cina, Arab, dan India. Hal ini diakibatkan oleh beragamnya orang yang datang/singgah di kota ini sehingga terjadinya pembauran kebudayaan.

MANFAAT KEBERAGAMAN BUDAYA

Tidak semua negara memiliki keberagaman budaya seperti yang dimiliki oleh negara Indonesia. Dengan demikian, keberagaman budaya memberikan manfaat bagi bangsa kita.
Beberapa manfaat keberagaman budaya, sebagai berikut :
  1. Dalam bidang bahasa, kebudayaan daerah yang berwujud dalam bahasa daerah dapat memperkaya perbendaharaan istilah dalam bahasa Indonesia. 
  2. Dalam biang pariwisata, potensi keberagaman budaya dapat dijadikan objek dan tujuan pariwisata di Indonesia yang bisa mendatangkan devisa.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbesar di dunia, terdiri da-ri sekitar 17.000 pulau, terbentang dari Barat ke Timur sepanjang 5.110 km dari 950 BT-1410 BT, dan dari utara keselatan sepanjang 1.888 km dari 60LU-110LS. Luas wilayah Indonesia seluruhnya mencapai 5.193.252 km2, dengan luas daratan 1.904.443 km2, dan mempunyai garis pantai sepanjang 54.716 km, merupakan yang terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Pulau daratan yang paling besar adalah Pulau Kalimantan dengan luas tanah 539.460 km2 atau 28,32 %. Disusul Pulau Sumatra dengan luas 473.606 km2 atau 24,86 %. Kemudian Pulau Sulawesi dengan luas 189.216 km2 atau 9,93 %, yang paling kecil diantara ke empat pulau terbesar itu adalah pulau Jawa dan Pulau Madura dengan luas 132.187 km2 atau 6,95%.
Indonesia terletak diantara Benua Asia dan Benua Australia, serta antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Posisi ini membuat Indonesia penting bukan hanya dari sudut sosial ekonomi, tetapi juga politik dan militer. Karena terletak di garis khatulistiwa, Indonesia juga dijuluki Zamrud Khatulistiwa.
Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus tahun 2000 berjumlah 237,6 juta orang, terdiri dari 119,6 juta laki-laki dan 118 juta perempuan. Dengan laju pertumbuhan 1,49 % pertahun, penduduk Indonesia relatif telah dapat dikendalikan pertumbuhannya, meskipun jumlah penduduk Indonesia masih merupakan nomor empat terbesar di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.
Penduduk Indonesia tersebar di sekitar 6.850 pulau dari kurang lebih 17.000 pulau, mulai Pulau We di ujung utara sampai Pulau Papua di timur. Tetapi persebaran penduduknya tidak merata, hal ini terlihat dari 59 % jumlah penduduk Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa, padahal luasnya hanya 6,94 % dari luas wilayah Indonesia. Hal ini berakibat pada kepadatan penduduk yang sangat tinggi di beberapa propinsi seperti DKI Jakarta dengan 12,6 ribu jiwa per km2, sementara di Papua hanya 5 jiwa per km2.
Bangsa Indonesia terbagi atas ratusan suku bangsa, yang masingmasing memiliki adat dan tradisi berbeda. Merekapun mempunyai bahasa daerah yang berlainan, dengan ratusan dialek dan logat bahasa. Jika dikelompokkan, diperkirakan terdapat sekitar 200 sampai 250 bahasa daerah. Dari daftar sementara suku bangsa di Indonesia yang dikumpulkan diperkirakan terdapat sekitar 360 kelompok suku bangsa.
Dilihat dari ras, penduduk Indonesia juga memiliki beberapa ras. Ras didasarkan kepada persamaan ciri-ciri fisik dari kelompok manusia. Para antropolog banyak yang berbeda pendapat bahkan mengalami kesulitan untuk membuat klasifikasi ras umat manusia, karena fakta menunjukkan banyaknya variasi yang terjadi pada kelompok manusia. Ditambah banyak dari kelompok ras yang sama, mengembangkan kebudayaan dan bahasa yang berbeda atau sebaliknya, ras-ras yang berbeda mengembangkan kebudayaan dan bahasa yang sama. Misalnya masyarakat Amerika terdiri dari berbagai macam ras di seluruh dunia, tetapi mereka mengembangkan bahasa dan kebudayaan Amerika.
Di Indonesia yang termasuk ke dalam ras Mongoloid Melayu antara lain orang Jawa, orang Minang, orang Menado, Orang Sunda dan lainnya. Namun seperti kita ketahui bahwa kelompok-kelompok yang berasal dari satu ras itu mengembangkan kebudayaan dan bahasa yang berbeda-beda. Demikian juga ras Melanesosid dapat ditemukan di Papua, karena di Papua pun terdiri dari banyak bahasa dan kebudayaan yang berbeda-beda.
Dari contoh diatas terlihat bahwa di Indonesia banyak kebudayaan dan bahasa yang perkembangannya tidak harus terikat oleh faktor ras. Oleh karena itu, pembahasan mengenai keanekaragaman budaya masyarakat Indonesia tidak dihubungkan dengan ras. Kemudian alasan lain bahwa dalam perkembangan bangsa Indonesia istilah ras sudah kurang digunakan lagi dan sebagai gantinya digunakan istilah suku bangsa.

2) Suku Bangsa Indonesia
Menurut Koentjaraningrat (1990) konsep yang tercakup dalam istilah suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan, sedangkan kesadaran dan identitas tadi seringkali (tetapi tidak selalu) dikuatkan oleh kesatuan bahasa juga. Dengan demikian kesatuan kebudayaan bukan suatu hal yangditentukan oleh orang luar, misalnya oleh seorang ahli Antropologi, ahli kebudayaan atau lainnya, melainkan oleh warga kebudayaan yang bersangkutan. Dengan demikian kebudayaan Sunda merupakan suatu kesatuan, bukan karena ada peneliti-peneliti yang secara etnografi telah menentukan bahwa kebudayaan Sunda itu suatu kebudayaan tersendiri yang berbeda dari kebudayaan Jawa atau kebudayaan lainnya, tetapi karena orang-orang Sunda sendiri sadar bahwa diantara mereka ada keseragaman mengenai kebudayaan mereka, yaitu kebudayaan semua yang mempunyai kepribadiandan identitas khusus sebagai orang Sunda.
Namun pengertian mengenai suku bangsa di Indonesia seperti tersebut di atas dalam kenyataannya sangat kompleks, ada yang menyempit dan ada yang meluas. Misalnya penduduk Papua terdiri atas orang Sentani, orang Marindanim, orang Serui, orang Kapauku dan sebagainya yang masing-masing memiliki kebudayaan dan bahasa khas yang mereka gunakan dalam kelompoknya masing-masing. Namun apabila mereka hidup di luar Papua akan mengaku sebagai orang Papua.
Sampai sekarang ada beberapa pendapat mengenai jumlah suku bangsa yang ada di Indonesia. Atas dasar patokan jumlah bahasa daerah, maka Esser, Berg dan St. Takdir Alisyahbana memperkirakan adanya 200 sampai 250 suku bangsa di Indonesia. Kemudian Jaspan yang pernah menyusun daftar suku-suku bangsa di Indonesia berpndapat bahwa jumlah suku bangsa di Indonesia ada 360. Sedangkan menurut Koentjaraningrat jumlah suku–suku bangsa di Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. ]   Sumatra                       :  42  suku bangsa
  2. ]   Jawa dan Madura        :  8    suku bangsa
  3. ]   Bali dan Lombok          :  3    suku bangsa
  4. ]   Kalimantan                   :  25  suku bangsa
  5. ]   Sulawesi                       :   37 suku bangsa
  6. ]   Timor                            :   24 suku bangsa
  7. ]   Kep. Barat Daya           :   5  suku bangsa
  8. ]   Maluku                          :   9  suku bangsa
  9. ]  Ternate                          :  15  suku bangsa
  10. ]  Papua                            :  27  suku bangsa
                                                     195 suku bangsa
Lebih lanjut Koentjaraningrat mengemukakan bahwa sebagian suku-suku bangsa di Indonesia sudah banyak dikelompokkan para ahli baik oleh orang asing atau oleh orang Indonesia sendiri, namun tetap banyak mengalami kesu-litan untuk dapat menggambarkan keanekaragaman kebudayaan Pemerintah Indonesia sendiri untuk kepentingan administratif yang sifatnya praktis membagi suku bangsa di Indonesia menjadi tiga golongan, yaitu:
Ø  suku bangsa
Ø  golongan keturunan asing
Ø  masyarakat terasing
Sebagaimana telah diketahui bahwa suku bangsa memiliki daerah asal dalam wilayah Indonesia. Berbeda dengan golongan keturunan asing, golongan ini berasal dari luar Indonesia seperti Cina, Arab, India, Eropa. Golongan penduduk keturunan asing ini diharapkan dapat berasimilasi dengan penduduk dimana mereka tinggal atau sepenuhnya menganut kebudayaan nasional Indonesia. Kebudayaan nenek moyang hanya untuk dianut dalam kehidupan pribadi mereka saja, karena mereka harus menggunakan kebudayaan nasional. Hal ini sangat rasional karena mereka hidup dalam wilayah negara kesatuan republik Indonesia, menikmati keamanan di Indonesia, menikmati kesejahteraan di Indonesia bahkan sampai melahirkan keturunan beberapa generasi di Indonesia. Hal ini telah dibuktikan oleh orang Arab-Indonesia yang telah menyatu mencapai asimilasi dan mereka hanya dibedakan dari penduduk asli Indonesia melalui cirri-ciri fisiknya saja yang memang secara kodrat sulit dihilangkan.
Masyarakat terasing merupakan golongan suku bangsa yang terisolasi dan masih hidup dari berburu, meramu atau berladang padi dan umbi-umbian dengan cara ladang berpindah-pindah. Mereka membuka hutan dengan cara membakar hutan. Biasanya mereka terhambat dari perubahan dan kemajuan karena isolasi geografi mereka. Namun kadang kadang juga karena upaya-upaya mereka sendiri yang disengaja untuk menolak bentuk perubahan kebudayaan apapun, seperti halnya orang Baduy di Banten.
Beberapa golongan masyarakat terasing yang masih tinggal adalah:
  • Orang laut yang bersifat pengembara
  • Orang darat yang hidup tersebar di daratan–daratan rendah yang berawa di Sumatra Timur hingga kekaki Bukit Barisan di pedalaman.
  • Penduduk kepulauan Mentawai, pulau-pulau di sebelah barat Sumatera Barat.
  • Orang Baduy di Banten Selatan, Propinsi Banten
  • Orang Donggo di bagian pedalaman pegunungan Sumbawa Timur
  • Kelompok pengembara orang Punan (Penan) yang berpindah-pindah di sepanjang hulu sungai-sungai besar Kalimantan
  • Orang Tajio di Sulawesi tengah
  • Orang Amma Toa di Sulawesi Tenggara
  • Orang Togutil di Halmahera Utara
  • Penduduk lembah pegunungan Tengah Papua serta mereka yang hidup dihulu-hulu sungai besar.
3) Faktor Penyebab Keberagaman Budaya Suku Bangsa Indonesia

Keberagaman budaya suku bangsa Indonesia merupakan suatu kenyataan dan sekaligus kekayaan yang terdapat dalam lingkungan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia ini. Namun tentu saja kita bertanya mengapa masyarakat Indonesia itu beraneka ragam keadaannya, kira-kira apa penye-babnya? Dari hasil analisis yang dilakukan oleh beberapa faktor, yang diduga menyebabkan keanekaragaman masyarakat Indonesia. Faktor itu antara lain keadaan geografi wilayah Indonesia dan letak kepulauan Indonesia diantara dua benua dan dua samudra.

Keadaan geografis wilayah Indonesia

Wilayah Indonesia terdiri dari lebih 17.000 pulau besar dan kecil yang satu sama lain dipisahkan oleh laut atau selat yang bertebaran di suatu daerah ekuator sepanjang kurang lebih 3000 mil dari Timur ke Barat dan lebih dari 1000 mil dari utara ke Selatan, merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap keanekaragaman suku bangsa di Indonesia. Oleh karena itu ketika nenek moyang bangsa Indonesia datang secara bergelombang dari daerah yang sekarang sebagai daerah Tiongkok selatan kira-kira 2000 tahun SM, menye-babkan mereka harus menetap didaerah yang terpisah-pisah satu sama lain. Isolasi geografis yang demikian mengakibatkan mereka tumbuh menjadi satu kesatuan suku bangsa, Masing-masing berbeda satu sama lain karena memang mereka hidup dalam keadaan lingkungan yang berbeda-beda.

Letak Kepulauan Indonesia diantara dua benua dan dua samudera.

Letak kepulauan Indonesia diantara dua benua yaitu Australia dan Asia serta diantara dua samudera, yaitu Hindia dan Pasifik. Ini dapat mempengaruhi terciptanya keanekaragaman dan masuknya berbagai kebudayaan dunia kedalam kebudayaan-kebudayaan suku bangsa yang sudah ada.
Pengaruh yang pertama kali datang adalah agama dan kebudayaan Hindu dan Budha dari India, sejak 400 tahun SM. Agama Hindu dan Budha ini tersebar ke berbagai wilayah Indonesia. Akibat penyebaran ini terjadi peleburan atau difusi dengan kebudayaaan-kebudayaan suku bangsa yang sudah ada. Pengaruh yang paling kuat bahkan sampai sekarang terutama di Pulau Jawa dan Pulau Bali.
Sekitar abad ke 13, agama Islam mulai masuk kedalam masyarakat Indonesia, namun baru sekitar abad ke 15 penyebaran agama Islam ini benar-benar menyebar keseluruh pelosok wilayah Indonesia. Bila dibandingkan dengan agama lain, agama Islam merupakan agama yang paling cepat penyebarannya dan paling banyak diterima oleh masyarakat luas di Indonesia. Hal ini disebabkan penyebarannya tidak dilakukan dengan paksaan. Setiap masyarakat Indonesia diberi kebebasan untuk menetukan pilihannya sendiri apakah mau memeluk agama Islam atau tidak.
Namun di beberapa daerah dimana sudah tertanam begitu kuat agama Hindu seperti di Bali, Budha dan campuran dengan kebudayaan asli setempat seperti di beberapa daerah Jawa tengah dan Jawa timur, pengaruh agama Islam kurang mendapat tempat.  Kemudian sekitar permulaan abad ke 16 datanglah kebudayaan Barat melalui orang Portugis. Orang Portugis datang ke Indonesia terutama di daerah kepulauan Maluku karena tertarik oleh rempah-rempah yang sangat laku di Eropa saaat itu. Perdagangan mereka juga ternyata disertai kegiatan misionaris agama Katolik. Setelah bangsa Belanda berhasil mendesak orang Portugis keluar dari daerah tersebut kira-kira tahun 1600-an, maka pengaruh agama Katolik digantikan oleh pengaruh agama Protestan yang dibawa oleh bangsa Belanda.
Semua pengaruh yang datang dari luar akan mengakibatkan terdapatnya bermacam-macam agama di Indonesia yang dianut oleh para pemeluknya masing-masing. Demikianlah secara sepintas kita mengetahui bahwa masyarakat Indoensia memiliki bermacam-macam suku bangsa, ras, budaya, agama maupun yang lainnya. Atau dengan kata lain bahwa masyarakat Indonesia itu beraneka ragam. Keanekaragaman ini merupakan suatu kekayaan bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya yang merupakan potensi untuk menjadi bangsa yang besar.
Kesimpulan di atas, sangatlah jelas bagi kami pihak peneliti ingin membuat kamus dari berbagai bahasa yang di gunakan oleh berbagai suku bangsa di Indonesia yang jumlah suku nya terdiri  dari 195 Suku Bangsa yang berada di Wilayah Nusantara Indonesia. Karena Bahasa tersebut adalah bahasa yang di pakai dalam berkomunikasi dengan sesama suku sebelum Bahasa Indonesia terbentuk. Saat belum ada bahasa Indonesia pastilah komunikasi mereka antar suku hanya menggunakan bahasa tubuh atau bahasa isyarat. Yang pastilah kadang menimbulkan salah pengertian atau kadang justru terjadi pecah konflik jika kita salah mengartikan. Kenapa bahasa Nusantara yang kita pilih sebagai penelitian, karena bahasa tersebut merupakan peninggalan sejarah nenek moyang kita yang harus kita jaga dan di lestarikan, sehingga saat kita berpergian ke suatu wilayah kita bisa menyesuaikan dengan bahasa yang mereka pergunakan di wilayah tersebut. Karena tidak semua orang bisa menggunakan Bahasa Indonesia ,apalagi sebagian orang-orang yang sudah tua dan tidak mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Dan keuntungan yang di dapatkan agar bahasa Daerah di Wilayah Nusantara bisa di kenal oleh Bangsa Lain, Jadi mereka bisa lebih mudah untuk berkomunikasi dengan Daerah tertentu jika mereka ingin mengadakan penelitian dalam bidang ilmu tertentu ataupun hanya sekedar ingin tinggal di wilayah daerah tersebut.
Dampak positif pembuatan kamus tersebut adalah kenaikan di Sektor Pariwisata dan Kebudayaan karena dengan adanya Kamus berbagai bahasa di Nusantara bisa membuat keinginan para wisatawan lokal atau manca negara untuk lebih mengenal budaya mereka, dengan segala keunikan yang di miliki dari tiap daerah atau suku di Indonesia. SEKIAN



Tidak ada komentar:

Posting Komentar