Ulang tahunku jatuh tanggal 03 Oktober 2014 , saat ini umurku sudah genap 38 tahun ,sebenarnya arti
pertambahan umur kita tiap tahun lebih membuat kita semakin sadar bahwa kita
sampai saat ini masih diberikan kehidupan oleh Allah SWT hendaknya dari tahun
ke tahun kita harus berubah, dalam arti cara kita berprilaku, cara kita melihat
sisi hidup ini, dan membuat perenungan diri, apa saja yang sebaiknya kita lihat
dari diri kita, sudah baik kah kita bagi sesama, sudah bergunakah hidup kita
bagi orang di sekitar kita, atau hanya menjadi beban bagi orang lain.
Alhamdullilah saya mempunyai suami yang
sayang dan memberikan support maupun doa kepada kita, masih mempunyai ibu yang
setiap saat tanpa kita minta selalu memberikan restu dan doa kepada kita, Itu
harus saya syukuri selain seorang kakak, saudara juga teman2 tak lupakan
mengucapkan doa nya kpd kita, yang tentu saja itu bentuk dari perhatian mereka
kpd kita.
Tetapi Banyak hal yang masih harus diperbaiki, tingkah laku
dan perbuatan, terutama ketaqwaan kepada Sang Khaliq yang telah
memberikan waktu kepada saya untuk dapat menghirup udara dengan bebas
setiap waktu serta dapat menikmati kehidupan duniawi yang telah diberikan
oleh Sang Pencipta yang tiada tara banyaknya.
Fabiayyialaairobbikumatukadziban, maka nikmat Allah yang manakah yang
engkau dustakan?. Sekali lagi terima kasih kepada semuanya, mudah-mudahan disisa umur
yang masih ada, saya masih bisa memberikan manfaat
kepada orang-orang tercinta yang berada disekeliling saya.
Amien…. ya Rabbal alamin…Nah, lalu bagaimanakah Islam memandang perkara ulang
tahun ini? Mari simak penjelasan berikut.. yuuukk.
1. Sejarah Perayaan Ulang Tahun
Ulang tahun atau Milad (dalam bahasa
arab) pertama kali dimulai di Eropa. Dimulai dengan ketakutan akan adanya roh
jahat yang akan datang pada saat seseorang berulang tahun, untuk menjaganya
dari hal-hal yang jahat, teman-teman dan keluarga diundang datang saat sesorang
berulang tahun untuk memberikan do’a serta pengharapan yang baik bagi yang
berulang tahun. Memberikan kado juga dipercaya dapat memberikan rasa gembira
bagi orang yang berulang tahun sehingga dapat mengusir roh-roh jahat tersebut.
Merayakan ulang tahun merupakan sejarah lama.
Orang-orang jaman dahulu tidak mengetahui dengan pasti hari kelahiran mereka,
karena waktu itu mereka menggunakan tanda waktu dari pergantian bulan dan
musim. Sejalan dengan peradaban manusia, diciptakanlah kalender. Kalender
memudahkan manusia untuk mengingat dan merayakan hal-hal penting setiap
tahunnya, dan ulang tahun merupakan salah satunya.
Banyak simbol-simbol yang diasosiasikan atau
berhubungan dengan ulang tahun sejak ratusan tahun lalu. Ada sedikit
penjelasan mengapa perayaan ulang tahun harus menggunakan kue. Salah satu
cerita mengatakan, karena waktu dulu bangsa Yunani menggunakan kue untuk
persembahan ke kuil dewi bulan, Artemis. Mereka menggunakan kue
berbentuk bulat yang merepresentasikan bulan purnama. Cerita lainnya tentang
kue ulang tahun yang bermula di Jerman yang disebut sebagai “Geburtstagorten”
adalah salah satu tipe kue ulang tahun yang biasa digunakan saat ulang tahun.
Kue ini adalah kue dengan beberapa layer yang rasanya lebih manis dari kue
berbahan roti.
Simbol lain yang selalu menyertai kue ulang
tahun adalah penggunaan lilin ulang tahun di atas kue. Orang Yunani yang
mempersembahkan kue mereka ke dewi Artemis juga meletakan
lilin-lilin di atasnya karena membuat kue tersebut terlihat terang menyala
sepeti bulan (gibbons, 1986). Orang Jerman terkenal sebagai orang yang
ahli membuat lilin dan juga mulai membuat lilin-lilin kecil untuk kue mereka.
Beberapa orang mengatakan bahwa lilin diletakan dengan alasan keagamaan/religi.
Beberapa orang jerman meletakan lilin besar di tengah-tengah kue mereka untuk
menandakan “Terangnya Kehidupan” (Corwin,1986). Yang lainnya percaya
bahwa asap dari lilin tersebut akan membawa pengharapan mereka ke surga.
Saat ini banyak orang hanya mengucapkan
pengharapan di dalam hati sambil meniup lilin. Mereka percaya bahwa meniup
semua lilin yang ada dalam satu hembusan akan membawa nasib baik. Pesta ulang
tahun biasanya diadakan supaya orang yang berulang tahun dapat meniup lilinnya.
Ada juga mitos yang mengatakan bahwa ketika
kita memakan kata-kata yang ada di atas kue, kata-kata tersebut akan menjadi
kenyataan. Jadi dengan memakan “Happy Birthday” akan membawa
kebahagiaan. Pada pesta ulang tahun pertama kalinya, pesta diadakan karena orang menduga
akan adanya roh jahat yang mengganggu mereka. Jadi mereka mengundang teman dan
kerabat untuk menghadiri pesta ulang tahun mereka sehingga roh-roh jahat tidak
jadi mengganggu yang berulang tahun. Dalam pesta-pesta selanjutnya banyak dari
keluarga dan teman yang membawa kado atau bunga untuk yang berulang tahun.
Saat ini kebanyakan pesta ulang tahun diadakan
untuk bersenang-senang. Jika orang yang di undang tidak bisa menghadiri pesta
ulang tahun, biasanya mereka akan mengirimkan kartu ucapan selamat ulang tahun.
Tradisi mengirimkan kartu ucapan dimulai di Inggris sekitar 100 tahun yang lalu
(Motomora, 1989). Pada awal mulanya hanya raja saja yang dirayakan ulang
tahunnya (mungkin disinilah awal mulanya tradisi topi ulang tahun bermula).
Seiring waktu berlalu, anak-anak juga di ikutsertakan dalam pesta ulang tahun.
Pesta ulang tahun untuk anak-anak pertama kali terjadi di Jerman dan
dinamakan “kinderfeste”. Tetapi saat ini, pesta ulang tahun bisa
diadakan oleh siapa saja, terutama yang punya uang…
Nah kira-kira begitulah sejarahnya perayaan
ulang tahun untuk pertama kalinya, percaya gak percaya, tapi tetap aja enggak
ada salahnyakan mengucapkan do’a di hari ulang tahun kita.
Perlukah Umat Islam Merayakan Ulang Tahun
Pembahasan boleh tidaknya masalah ulang tahun
seseorang atau organisasi memang tidak disinggung secara langsung dalam
dalil-dalil syar‘i. Tidak ada ayat Al-Quran atau hadits Nabawi yang
memerintahkan kita untuk merayakan ulang tahun, sebagaimana sebaliknya, juga
tidak pernah ada larangan yang bersifat langsung untuk melarangnya. Sehingga
umumnya masalah ini merupakan hasil ijtihad yang sangat erat kaitannya dengan
kondisi yang ada pada suatu tempat dan waktu. Artinya, bisa saja para ulama
untuk suatu masa dan wilayah tertentu memandang bahwa bentuk perayaan ini lebih
banyak mudharat dari manfaatnya. Namun sebalik, bisa saja pendapat ulama
lainnya tidak demkian, bahkan mungkin ada hal-hal positif yang bisa diambil
dengan meminimalisir dapak negatifnya.
Mengapa demikian? Karena memang tidak didapat
nash yang secara sharih melarang atau membolehkannya. Tidak terdapat dalam
sunnah apalagi dalam Al-Quran. Sehingga dalam satu majelis yang di dalamnya
duduk para ulama, perbedaan sudut pandang pun bisa saja terjadi, tergantung
dari sudut pandang mana seorang melihatnya.
1. Pendapat
yang Mengharamkan
Sebagian ulama yang berfatwa mengharamkan
perayaan ulang tahun, berijtihad dari dalil-dalil yang bersifat umum. Misalnya,
dalil-dalil yang melarang umat Islam meniru-niru perbuatan orang-orang kafir. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: من تشبه بقوم فهو منهم
Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka termasuk
mereka (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Kiranya para ulama itu memandang bahwa perayaan
ulang tahun itu identik dengan perilaku orang-orang kafir. Sehingga mereka
mengharamkan umat Islam untuk merayakannya secara ikut-ikutan.Selain itu, oleh
sebagian ulama, seringkali acara ulang tahun disertai dengan banyak
kemaksiatan. Seperti minuman keras, pesta musik, joget, dansa, campur baur
laki-laki dan wanita. Bahkan banyak yang sampai meninggalkan shalat dan
kewajiban lainnya. Seringkali juga pesta-pesta itu sampai melupakan niat utama,
tergantikan dengan semangat ingin pamer dan menonjolkan kekayaan. Sehingga
menimbulkan sifat riya’ dan sum’ah pada penyelenggaranya.
2. Yang
Cenderung Membolehkan
Adapun sebagian lainnya dari para ulama, mereka
cenderung membolehkan ulang tahun. Dengan landasan dasar bahwa ulang tahun
bukanlah ibadah ritual. Sehingga selama tidak ada larangannya yang secara
langsung disebutkan di dalam nash Quran atau sunnah, hukum asalnya adalah
boleh. Sesuai dengan kaidah “al-ashlu fil asy-yaa’i al-ibahah.” Bahwa kaidah
dasar dari masalah muamalah adalah kebolehan, selama tidak ada nash yang secara
tegas melarangnya. Adapun alasan peniruan orang kafir, dijawab dengan argumen bahwa tidak
semua yang dilakukan oleh orang kafir haram dikerjakan. Hanya yang terkait
dengan peribadatan saja yang haram, adapun yang terkait dengan muamalah, selama
tidak ada nash yang langsung melarangnya, hukumnya tidak apa-apa bila kebetulan
terjadi kesamaan. Misalnya, kebiasaan pesta pasca panen di suatu negeri yang
masih kafir. Apakah bila ada kebiasaan yang sama di suatu negeri muslim,
dianggap sebagai bentuk peniruan? Tentu tidak, sebab hal itu dipandang sebagai
‘urf yang lazim, tidak ada kaitannya dengan wilayah kekufuran atau
kebatilan. Para ulama dari kelompok ini cenderung menetapkan ‘illat
haramnya peniruan pada orang kafir berdasarkan titik keharamannya. Bukan
semata-mata dilakukan oleh mereka. Misalnya, kebiasaan orang kafir memberikan
sesaji kepada gunung yang mau meletus, maka hukumnya haram bagi muslimin untuk
melakukannya. Adapun bila ada nash secara langsung dari Rasulullah SAW untuk
tidak meniru suatu perbuatan tertentu, maka wajib bagi tiap muslim untuk
mengikuti perintah beliau. Misalnya, larangan Rasulullah SAW bagi umat Islam
untuk mencukur jenggot dan memelihara kumis, sebab dianggap menyerupai orang
kafir. Maka larangan itu tetap berlaku, meski pun orang kafir sendiri telah
merubah kebiasaannya.
Beberapa Pertimbangan
Bila kita ingin meletakkan hukum merayakan ulang
tahun, kita harus membahas dari tujuan dan manfaat yang akan
didapat. Apakah ada di antara tujuan yang ingin dicapai itu sesuatu yang
penting dalam hidup ini? Atau sekedar penghamburan uang? Atau sekedar
ikut-ikutan tradisi? Adakah sesuatu yang menambah iman, ilmu dan amal? Atau
menambah manfaat baik pribadi, sosial atau lainnya? Pertimbangan lain adakah
dalam pelaksanaan acara seperti itu maksiat dan dosa yang dilanggar?
Bila ternyata semua jawaban di atas positif, dan
acara seperti itu menjadi tradisi, apakah tidak akan menimbulkan salah paham
pada generasi berikut seolah-olah acara seperti ini harus dilakukan? Hal ini
seperti yang terjadi pada upacara peringatan hari besar Islam baik itu
kelahiran, isra` mi`raj dan sebagainya. Jangan sampai dikemudian hari, lahir
generasi yang menganggap perayaan ulang tahun adalah sesuatu yang harus
terlaksana. Bila memang demikian, bukankah kita telah kehilangan makna?
Sumber: Ahmad Sarwat, Lc.
