Tidak lama lagi diakhir tahun 2015, AEC akan mulai
dilaksanakan. Apa AEC itu sendiri? AEC atau yang dikenal sebagai Asean Economic
Community adalah kerjasama ekonomi di lingkup ASEAN. Memang sejauh ini sudah
ada kerjasama antar negara di ASEAN tetapi cakupan kerjasama masih dalam
lingkup yang terbatas. Dengan adanya AEC atau lebih dikenal
dengan istilah masyarakat ekonomi Asean (MEA) ini, nantinya negara-negara yang
terlibat dalam ASEAN akan disamaratakan pertumbuhan ekonominya, kemajuan sosial
dan pengembangan kebudayaan antar negara yang terlibat didalamnya. Dalam
artian, perekonomian di Asia Tenggara akan menjadi lebih baik dan mampu
bersaing dengan negara yang perekonomiannya lebih maju. Tidak hanya itu, dengan
adanya AEC ini bisa meningkatkan kerjasama yang aktif dan saling membantu dalam
menangani masalah yang ada diantara negara yang terlibat. Sehingga akan
tercipta perdamaian diantara Negara yang terlibat di dalamnya.
Sekarang sejauh mana pemerintah kita
dalam menyajikan dan mensosialisasikan berita-berita tersebut? Sejauh mana
Pemerintah Provinsi Banten menyiapkan hal tersebut? Dan seberapa banyak
masyarakat Banten yang tahu mengenai hal ini? Bedasarkan data yang ada, Pemprov
memfokuskan AEC hanya untuk para pengusaha di Banten. Sabtu, 18 oktober 2014 bertempat
di gedung kadin, dinas perdangan dan perindustrian serta dinas terkait lainnya
menggelar acara dialog bersama kamar dagang dan industri (Kadin) Banten untuk
mengajak para pengusaha untuk menjadi mitra pemprov dalam membangun provinsi
banten dalam menghadapi AEC ini.
Mengapa pemprov hanya fokus ke para
pengusaha? bagaimana dengan masyarakat yang lain? Seharusnya pemerintah tidak
hanya memfokuskan AEC kepada kalangan pengusaha saja, seharusnya masyarakat
yang lainnya harus tahu mengenai hal ini, terutama pada generasi muda atau usia
produktif yang ingin bekerja. Sehingga mereka mengetahui bahwa kompetitor
mereka tidak hanya dalam lingkup nasional tetapi juga masyarakat lain dari 9
negara yang terlibat pada ASEAN.
Bagaimana kita mau memajukan
provinsi dan Negara kita, akan tetapi hanya beberapa masyarakat yang tahu akan
hal ini. Padahal sebentar lagi kita akan menghadapi pasar bebas ASEAN. Yang
juga berpengaruh pada kesempatan kerja. Maka dari itu sebagai generasi muda
atau usia produktif tentunya kita yang memegang peranan penting dimasyarakat,
kita dapat memaksimalkan peluang besar kita untuk memajukan perekonomian
provinsi bahkan Negara kita.
Faktanya negara kita menyuplai 40%
total penduduk ASEAN. Seharusnya kita malu karena kita yang menyumbangkan tingkat
populasi yang tinggi, tetapi tidak ikut berpartisipasi dalam hal tersebut dan
hanya menjadi penonton saja. Dan juga dengan letak geografis dan luas wilayah
kita yang sangat strategis seharusnya bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.
Sekarang langkah apa saja yang perlu
kita lakukan dan perhatikan dalam menyiapkan AEC ini? Salah satunya dengan cara
meningkatkan kepedulian generasi –generasi muda terhadap AEC saat ini. Seperti
saling mengingatkan kepada teman dan lingkungan sekitar bahwa AEC semakin
dekat. Dan juga langkah yang pertama yang perlu di perhatikan ialah
meningkatkan SDM kita sendiri dari segi pendidikan. Tidak perlu mempunyai IP
yang sempurna, yang paling penting adalah kesiapan kita menghadapi dunia kerja
dan AEC. Yang diketahui bersama dunia kerja membutuhkan orang dengan kemampuan soft
skill yang bagus. Sebagai contoh dengan cara melatih kemampuan berbahasa.
Tidak hanya kemampuan berbahasa inggris yang harus kita kuasai akan tetapi
kemampuan berbahasa Negara yang lainnya terutama negara-negara yang akan
terlibat pada AEC ini. Contohnya, kalian ke depannya ingin bekerja di salah
satu Negara ASEAN misalnya Thailand, latihlah bahasa Thailand itu sendiri.
Hal yang harus diperhatikan lagi
adalah mengurangi sifat konsumerisme atau sifat seseorang dalam melakukan atau
menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara
berlebihan. Hal tersebut akan menjadikan seseorang menjadi pecandu dari suatu
produk tersebut. Banyak generasi muda sekarang yang mempunyai sifat tersebut
dan kebanyakan dari mereka kecanduan memakai produk dari luar. Jangan hanya
mengurangi sifat konsumerisme, kita juga harus bangga terhadap produk kita
sendiri. Tidak hanya bangga, kita juga harus berfikir kreatif guna menjadi
pelaku dalam usaha yang kita geluti. Dan mulai dari sekarang, Ayo siapkan diri
kita dan bangkitkan rasa kepedulian kita terhadap AEC 2015, untuk Banten dan
Indonesia yang lebih baik!
Setidaknya terdapat 4 hal penting terkait pelaksanaan AEC 2015, diantaranya
: 1. Asean sebagai pasar dan produksi tunggal, 2. Pembangunan ekonomi bersama
(Asean economic development), 3. Pemerataan ekonomi, 4. Perkuatan daya saing
(di sini pentingnya SDM Kompeten). Kesepakatan pelaksanaan AEC ini diikuti oleh
10 negara anggota Asean yang memiliki total penduduk 600 juta jiwa.
Sekitar 43% jumlah penduduk Asean itu berada di Indonesia. Artinya,
pelaksanaan AEC ini sebenarnya akan menempatkan Indonesia sebagai pasar utama
yang besar, baik untuk arus barang maupun arus investasi. Dalam kontek arus
barang, sudahkan barang-barang lokal nasional mampu bersaing melawan
produk-produk unggulan dari Thailand, Vietnam, Filiphina, Brunei
darussakam, dan Malaysia, baik dari sisi harga maupun kualitas. Bisakah
Indonesia pada AEC 2015 nanti menguasai pasarnya sendiri di dalam negeri?
Harus diingat, saat ini saja (2012) perdagangan antara Indonesia dengan
Vietnam tercatat defisit US$157 juta, dengan Thailand defisit US$721 juta,
dengan Singapura defisit US$707 juta, dengan malaysia defisit US$511 juta,
bahkan dengan negara kecil Brunei Darussalam defisit US$281 juta.
Memang, secara konsepsi AEC sangat makro dan tidak mudah darimana akan
mengawali persiapannya. Penulis juga meyakini bahwa Komite Persiapan AEC
bentukan pemerintah akan kesulitan menyusun draft persiapan menghadapi AEC
2015. Jika demikian kondisinya, bisa dipastikan defisit neraca perdagangan
dengan negara-negara disebut di atas akan semakin besar nilainya. Lantas untuk
apa ber-AEC jika keberadaannya justru semakin melemahkan Indonesia.
Sebenarnya masih cukup waktu untuk melakukan negosiasi ulang mengenai poin
apa saja yang penting disepakati, dan itu bisa menguntungkan posisi Indonesia.
Pola atau model yang telah diterapkan oleh negara-negara anggota Masyarakat
Ekonomi Eropa (MEE) sebaiknya tidak diterapkan pada kesepakatan AEC. Sebagian
poin-poin pada MEE harus dihindarkan pada AEC. Ini harus jelas dan tegas.
Konsep AEC harus lebih menjamin penyerahan keputusan kepada setiap negara
anggota. Sebab dari sinilah kita bisa memainkan peranan. Misalnya UU
(Undang-undang) yang mengatur tentang peserta tender pengadaan belanja barang
bagi pemerintah harus dikukuhkan untuk tidak boleh diikuti oleh perusahaan
asing, termasuk pengusaha dari negara-negara anggota Asean.
Sosialisasi yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam kontek persiapan AEC
hendaknya tidak semata mengenai cara-cara menembus pasar Asean, tapi yang jauh
lebih penting adalah bagaimana pengusaha kita bisa bertahan di pasar lokal di
tengah besarnya arus barang dari Asean. Pola-pola seperti MEE, misalnya
penyatuan mata uang, harus dihindarkan dalam AEC. Tidak perlu ada mata uang Asean
Dolar, atau bursa tunggal Asean Stock Market (Asean Stock Exchange). Tidak
perlu juga dibentuk Asian Interbank Spot Dollar Rate (Aisdor). Arahkan konsep
AEC sebagai sebuah komunitas ekonomi yang kuat saat menghadapi Jepang, Korea
dan India, misalnya.
Jika menilik kepada 4 poin penting terkait pelaksanaan AEC, yakni : 1.
Asean sebagai Pasar dan Produksi Tunggal, 2. Pembangunan ekonomi bersama (Asean
economic development), 3. Pemerataan ekonomi, 4. Perkuatan daya saing, maka
sebenarnya di sini adalah mengandung unsur regulasi, infrastruktur dan sistem.
Tiga hal penting ini (regulasi, infrastruktur dan sistem) yang harus
benar-benar dipersiapkan oleh pemerintah agar ekonomi – bisnis nasional masih
bisa terjaga, bahkan bisa ekspansi secara masif ke negara lain anggota Asean.
Misalnya dalam kontek liberalisasi investasi di AEC, Depertemen Keuangan
harus membuat regulasi persiapan yang kuat untuk “memagari” agar masyarakat
Indonesia tidak bisa dengan mudah membeli produk-produk investasi keuangan yang
dijual oleh perusahaan asal Thailand di pasar Indonesia. Kecuali kalau
perusahaan asing Asean itu sudah bekerjasama dengan perusahaan investasi skala
dunia, seperti AIG, Prudential, Manulife, atau lainnya.
Sebaliknya, bisa dipastikan masyakat ekonomi Asean tidak akan belanja
produk investasi Indonesia yang banyak menipu seperti produk investasi
Antaboga. Kita juga tidak ingin masyarakat kita membeli produk investasi asing
Asean yang dijual di pasar Indonesia tapi levelnya sama seperti Antaboga, yang
menipu dan menyengsarakan.
Penguatan barang lokal di pasar lokal harus menjadi ideologi yang perlu
dikembangkan bersama melalui gerakan kampanye menghadapi pelaksanaan AEC 2015.
Masyarakat dan khalayak pengusaha nasional tidak perlu terlalu khawatir
memasuki AEC 2015 jika dari sekarang ideologi “Penguatan Barang Lokal di Pasar
Lokal” mulai ditanamkan sedalam mungkin di hati. Sehingga nanti pada saatnya
(2015) – tanpa kita sadari—kita sudah bisa bertahan dan bersaing, setidaknya di
halaman sendiri. Bukan hanya menghadapi arus barang dari Brunei, Singapura,
Thailand, Vietnam, dan Malaysia, tapi juga arus barang dari Laos, Myanmar,
Filiphina dan Kamboja.
Kita tidak perlu terlalu sibuk memikirkan seperti apa konsep pelaksanaan
AEC 2015, karena terlalu makro dan sebenarnya sudah ada Sekjen Asean yang
menyusun dan mengkajinya secara seksama melalui arahan Asean High Level Task
Force. Sudah ada sebagian kesepakatan yang bisa dijadikan tolok ukur untuk
berlatih dan bertahan terkait AEC, misalnya/diantaranya AFTA (Asean Free Trade Area),
AIA (Asean Investment Area), AFAS (Asean Framework Agreement on Service),
dan ADSM (Asean Dispute Settlement Mecanism).
Maka itu, kuatkan saja idoelogi dari sekarang mengenai “Penguatan Produk Lokal
untuk Pasar Lokal” yang diiikuti oleh kerja keras dan penguatan teknis secara
terus-menerus, menguatkan aspek SDM Kompeten, sehingga nanti pada saatnya tanpa
terasa kita sebenarnya sudah mampu bersaing.* sumber: kompasiana 28/12/2014 Aluh Sibha H.
Bagikan kepada kerabat Anda............












