Sabtu, 20 Desember 2014

Melestarikan Permainan Tradisional Jawa

 

Dampak modernisasi pada masa ini, khususnya Teknologi Gadget atau Handphone, maupun Tablet dan Game Online membuat sebagian masyarakat baik di perkotaan dan pedesaan melupakan bersosialisasi dengan para tetangga, kerabat atau teman sepermainan, Anak-anak jaman sekarang menjadi seorang anak yang tidak suka bicara ataupun skeptis dengan berkumpul bersama dengan teman sebaya nya. Dengan gejala seperti itu kita akan melihat beberapa puluh tahun ke depan hubungan antar manusia secara langsung akan putus, saudara bahkan tidak akan kenal dengan saudara lainnya, Media sosial akan mengantikan kedudukan saling bersilaturahmi Faktanya efek globalisasi mulai mengancam kebudayaan lokal. Anak dan remaja mulai asing terhadap budaya lokal. Anak mulai tidak menguasai bahasa Jawa dan tidak mengenal seni tradisional. Orangtua pun lebih bangga melihat anaknya fasih berbahasa asing, pandai bermain game online, pintar mengoperasikan komputer dan lainnya. Kondisi ini menuntut upaya serius melestarikan budaya lokal mulai dari anak usia dini. Hal paling sederhana adalah dimulai dari pelestarian permainan tradisional. Permainan tradisional anak menurut Yunus (1981) umumnya bersifat rekreatif. 

Permainan tradisional biasanya merekonstruksi berbagai kegiatan sosial dalam masyarakat, seperti pasaran yang menirukan kegiatan jual beli, jaranan yang menirukan orang yang sedang melakukan perjalanan dengan naik kuda, permainan menthog-menthog yang melambangkan kemalasan dan lainnya. Permainan tradisional anak juga mendapatkan pengaruh kuat dari budaya lokal. Karena itu permainan tradisional mengalami pergantian, penambahan maupun pengurangan sesuai kondisi daerah setempat. Nama permainan sering berbeda antardaerah, namun memiliki persamaan atau kemiripan dalam cara memainkannya. Budaya Jawa memiliki sedikitnya 60 jenis permainan tradisional anak (Seriati dkk, 2012). Permainan tersebut terbagi atas permainan lagu, permainan gerak/fisik, serta permainan gerak yang disertai lagu. Permainan tradisional mampu menstimulus berbagai aspek perkembangan anak khususnya keterampilan sosial. Anak dapat belajar bersosialisasi dengan teman, belajar kekompakan, belajar mengendalikan diri atau mengendalikan emosi, belajar bertanggung jawab, belajar tertib terhadap peraturan serta belajar menghargai orang lain. Stimulasi keterampilan sosial anak melalui permainan tradisional dapat menjadikan pribadi anak yang memiliki kecerdasan emosional. 

Strategi Pelestarian Nilai lebih tradisi permainan tradisional serta fenomena kekinian degradasi tradisi menuntut strategi revitalisasi yang efektif. Upaya revitalisasi mesti dilakukan sistematis dan melibatkan semua unsur, baik orangtua, pemerintah, guru, lembaga pendidikan, publik dan lainnya. Pertama, orangtua sebagai pihak yang paling dekat, intens dan bertanggung jawab atas pendidikan anak mesti memiliki komitmen dan kesadaran melestarikan tradisi permainan tradisional. Beragam media dapat dimanfaatkan dalam mengenalkan anak, misalkan video atau gambar yang sudah banyak beredar. orangtua juga mesti mendorong anak bergaul dan bermain dengan teman di lingkungannya. Jika menggunakan jasa pengasuh, maka orangtua punya tanggung jawab mengkondisikan pengasuhnya. Kedua, pemerintah punya tanggung jawab makro dalam hal kampanye, fasilitasi dan kurikulum. Festival tradisional sering dilakukan di daerah, namun masih insidental dan sangat jarang. Kerja sama perlu diintensifkan dengan lembaga nirlaba, komunitas seni budaya masyarakat, swasta dan lainnya untuk meningkatkan frekuensi dan sebaran kegiatan kampanye budaya anak. 

Fasilitasi dapat diberikan dalam bentuk media kampanye, peralatan, tempat dan lainnya. Pemerintah mesti memasukkan permainan tradisional anak ke dalam kurikulum lembaga pendidikan atau sekolah, minimal dalam muatan lokal. Penyediaan ruang publik mendesak diperhatikan untuk memfasilitasi anak bermain. Ketiga, guru dan lembaga pendidikan mesti memiliki komitmen melestarikan budaya bukan semata menangkap tren dan menyetujui permintaan pasar. Implementasi permainan tradisional anak dapat dikemas secara kreatif dan inovatif sehingga menarik. Hal ini justru akan menjadi keunggulan sekolah atau lembaga pendidikan. Nasib eksistensi budaya bangsa di masa mendatang ada di tangan anak-anak sekarang. Pembiaran sekarang menjadi ancaman serius bagi punahnya warisan budaya yang masih kita banggakan. Semua pihak dituntut komitmen dan kontribusinya melestarikan tradisi permainan tradisional anak sejak usia dini. Mengenang permainan anak yang biasa dimainkan saat masih kecil merupakan kenangan indah yang lucu. Beberapa permainan yang mungkin Anda mainkan saat masih kecil misalnya congklak, gasing, bekel, petak umpet, petak jongkok, gobak sodor, petak benteng, dan masih banyak permainan menarik lainnya. Mari kita telusuri satu per satu permainan tradisional yang mungkin kita mainkan saat kanak-kanak..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar